METROPOLITAN.ID–
Sukses itu tak pernah instan. Ada proses pembelajaran keras yang harus
dilewati, meski dengan cara yang kadang tidak nyaman buat sebagian
orang. Managing Director Givi Indonesia, Berliana Hardeslani, sangat
meyakini hal tersebut dan menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik
untuk menapaki karir.
Sukses Lani—sapaan akrabnya—membidani merek aksesori dari Italia itu benar-benar berangkat dari nol. Bahkan prosesnya pun bisa dibilang kombinasi antara hobi dan tempaan keluarga. Dia adalah anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara.
”Sejak kecil saya sudah suka otomotif. Bahkan SMA main modifikasi, minimal ganti pelek. Hobi aku memang lebih kelaki-lakian. Tapi bukan berarti nggak punya teman perempuan, cuma memang passion-nya ke arah sana,” cerita Lani.
Dibilang tomboi, dia tak menampik. Namun Lani selalu berusaha menyembunyikannya dengan tampil sefeminim mungkin. Banyak temannya yang memvonis tomboi, meski sudah dibalut dengan ”casing” yang feminim dan cantik.
Bisnis
Hobi di bidang otomotif, dipadu dengan tempaan bisnis dari orang tua. Usaha sang ayah pun dikembangkannya, berbekal trik manajemen saat menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara, Jakarta.
Sukses Lani—sapaan akrabnya—membidani merek aksesori dari Italia itu benar-benar berangkat dari nol. Bahkan prosesnya pun bisa dibilang kombinasi antara hobi dan tempaan keluarga. Dia adalah anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara.
”Sejak kecil saya sudah suka otomotif. Bahkan SMA main modifikasi, minimal ganti pelek. Hobi aku memang lebih kelaki-lakian. Tapi bukan berarti nggak punya teman perempuan, cuma memang passion-nya ke arah sana,” cerita Lani.
Dibilang tomboi, dia tak menampik. Namun Lani selalu berusaha menyembunyikannya dengan tampil sefeminim mungkin. Banyak temannya yang memvonis tomboi, meski sudah dibalut dengan ”casing” yang feminim dan cantik.
Bisnis
Hobi di bidang otomotif, dipadu dengan tempaan bisnis dari orang tua. Usaha sang ayah pun dikembangkannya, berbekal trik manajemen saat menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara, Jakarta.
Perjuangan
dimulai. Lani harus memulai dari nol untuk mendapat kepercayaan Givi
Italia. Dia pun bercerita, bahwa tak jarang dia harus mengenalkan merek,
menawarkan produk dari toko satu ke toko lainnya. Wanita 37 tahun
mengaku terjun langsung door to door.
”Saya tidak pernah malu becek-becekan, cari langganan, tidak takut
berhadapan dengan orang. Ditolak itu biasa, karena dari situ akan
mendapat solusi. Tetaplah berpikir positif dan menjalani apa yang harus
dilakukan,” kata Lani.
Setelah sukses seperti sekarang, wanita asli Jakarta itu tidak tinggi
hati. Dia selalu menganggap bahwa semua karyawan adalah tim. Sukses
adalah kerja tim, bukan berasal dari satu orang. Tak jarang dia harus
bertukar pikiran dengan tenaga penjual di lapangan untuk mencari solusi
bersama-sama.
”Tidak pernah ada bos dan anak buah buat saya. Istilah direktur,
manajer, hanyalah kartu nama. Prinsipnya sama, tidak ada jarak antara
atasan dan bawahan. Semua adalah satu tim,” ucap Lani.
Satu pesan lagi darinya, untuk semua wanita atau pun pria yang ingin
melakukan bisnis, bahwa jangan pernah takut berinovasi. Pantang menyerah
itu keharusan, dan jangan pernah menyerah sebelum mencoba.
(otomotif.kompas.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar